Dari banyaknya pilihan ketika lulus nanti, pada umumnya siswa yang telah lulus dari SMA, SMEA, SMK dan jenjang sederajat lainnya akan melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi baik Perguruan Tinggi Negeri / PTN maupun Perguruan Tinggi Swasta / PTS. Pada perguruan tinggi terdapat penjurusan mahasiswa berdasarkan subyek mata kuliah yang diambil. Setiap jurusan memiliki materi dan sifat pembelajaran yang berbeda-beda. Jurusan yang memiliki sifat yang serupa akan digabung dalam suatu fakultas, akademi, sekolah tinggi, dan lain sebagainya.
Memilih jurusan kuliah bukan urusan yang mudah dan bukan persoalan yang sepele. Banyak faktor yang harus diperhitungkan dan dipikirkan masak-masak. Memilih secara tergesa-gesa tanpa memperhitungkan segala aspek akan berakibat fatal mulai dari kesadaran yang terlambat bahwa jurusan yang diambil tidak sesuai dengan kepribadian sampai pada drop out / DO atau dikeluarkannya seorang mahasiswa / mahasiswi karena dinyatakan tidak mampu mengikuti pendidikan yang diikutinya. Maka dari itu pemilihan jurusan sedini mungkin harus mulai dipertimbangkan. Salah pilih jurusan merupakan bencana dan kerugian yang besar bagi Anda di masa depan.
Tak jarang banyak mereka salah memilih jurusan di perguruan tinggi. Banyak dari mereka tidak dibekali pengetahuan yang cukup akan dunia perguruan tinggi. Selama ini mereka mendapatkan informasi mengenai suatu jurusan apabila di keluarga mereka pernah atau sedang kuliah di jurusan tersebut. Keluarga juga kadang tidak mendukung minat mereka karena jurusan tersebut tidak “menjual” di pasar pekerjaan. Mungkin karena hal ini mereka kurang mengetahui apa dan potensi apa yang diberikan oleh suatu jurusan yang dicap “tidak menjual”, Sekolah sebagai pihak kedua tidak terlalu banyak membantu. Sekarang banyak sekolah prestisius bermunculan dan mereka memberikan banyak informasi kepada perguruan tinggi dengan jurusan2nya, kepada orang tua dan murid. Tetapi, sekolah tersebut hanya dinikmati sebagian kecil dari murid di Indonesia. Kebanyakan murid hanya mendapatkan informasi yang sangat kecil dari pihak sekolah.
Dampak Dari Salah Memilih Jurusan
Banyak orang berpandangan, pilihlah jurusan yang gampang (gampang masuk dan gampang lulus), supaya gampang dapat pekerjaan dan gajinya besar, regardless sesuai minat atau tidak. Sebenarnya pandangan ini perlu ditinjau ulang karena memilih suatu jurusan bukanlah persoalan yang mudah. Dalam memilih jurusan, siswa perlu memperhitungakan beberapa faktor seperti kemampuan, minat, bakat, kepribadian, dll. Salah memilih jurusan punya dampak yang signifikan terhadap kehidupan di masa mendatang. Apa saja dampaknya ?
Problem psikologis
Mempelajari sesuatu yang tidak sesuai minat, bakat dan kemampuan, merupakan pekerjaan yang sangat tidak menyenangkan, apalagi kalau itu bukan kemauan / pilihan anak, tapi desakan orang tua. Belajar karena terpaksa itu akan sulit dicerna otak karena sudah ada blocking emosi. Kesal, marah, sebal, sedih, itu semua sudah memblokir efektivitas kerja otak dan menghambat motivasi. Anak kemungkinan akan berusaha setengah mati supaya hasilnya baik, but at the cost of his/her being. Dia mengabaikan panggilan hidupnya, perasaannya, demi orangtua.
Kepahitan dan kegetiran, marah, penyesalan dan penasaran bisa jadi membayangi setiap langkah hidup anak. Akan tambah sedih lagi ketika dia melihat teman-temannya bisa berbahagia di atas kehidupan yang mereka pilih sendiri. Kalau anak yang dari keluarga berduit, bisa saja dengan mudahnya pindah kuliah, tapi buat mereka yang ekonominya pas pas-an, ini bisa menjadi dilemma berat. Kalau tidak ikut saran orang tua, anak merasa bersalah karena orang tua sudah susah-susah membiayai kuliah, tapi kalau mengikuti kehendak orang tua, anak tertekan karena mengabaikan panggilan jiwa. Memilih jurusan sesuai dengan saran teman atau trend, padahal tidak sesuai dengan minat diri juga punya dampak psikologis, yakni menurunnya daya tahan terhadap tekanan, konsentrasi dan menurunnya daya juang. Apalagi kalau pelajaran kian sulit, masalah semakin bertambah, bisa menyebabkan kuliah terancam terhenti di tengah jalan.
Problem akademis
Problem akademis yang bisa terjadi jika salah mengambil pilihan, seperti prestasi yang tidak optimum, banyak mengulang mata kuliah yang berdampak bertambahnya waktu dan biaya, kesulitan memahami materi, kesulitan memecahkan persoalan, ketidakmampuan untuk mandiri dalam belajar, dan buntutnya adalah rendahnya nilai indeks prestasi. Selain itu, salah memilih jurusan bisa mempengaruhi motivasi belajar dan tingkat kehadiran. Kalau makin sering tidak masuk kuliah, makin sulit memahami materi, makin tidak suka dengan perkuliahannya akhirnya makin sering bolos. Padahal, tingkat kehadiran mempengaruhi nilai.
Problem relasional
Salah memilih jurusan, membuat anak tidak nyaman dan tidak percaya diri. Ia merasa tidak mampu menguasai materi perkuliahan sehingga ketika hasilnya tidak memuaskan, ia pun merasa minder karena merasa dirinya bodoh, dsb hingga dia menjaga jarak dengan teman lain, makin pendiam, menarik diri dari pergaulan, lebih senang mengurung diri di kamar, takut bergaul karena takut kekurangannya diketahui, dsb. Atau, anak bisa jadi agresif karena kompensasi dari inferioritas di pelajaran. Karena dia merasa kurang di pelajaran, maka dia berusaha tampil hebat di lingkungan sosial dengan cara missal, mendominasi, mengintimidasi anak yang dianggap lebih pandai, dsb.
Cara memilih jurusan di Perguruan Tinggi yang baik:
Tentukan Kamu Suka Bidang Apa
Ini adalah tahap awal yang menurut saya sangat penting, karena kalo kita sudah suka sama sesuatu, kita akan tetap berjuang untuk mendapatkannya, dan tentu saja kita akan enjoy berada dalam zona itu nantinya. Nah, sekarang tentukan bidang yang kamu suka, misal: kesehatan, teknologi, ekonomi, sosial, seni, sastra, dll.
Jangan Ikut-ikutan
Jangan karena teman atau pacar kamu memilih jurusan ‘X’, kamu ikut-ikutan memilih jurusan tsb,atau karena jurusan itu keren, atau karena jurusan itu menurut kamu punya nilai tinggi dibanding jurusan lain, atau apapun itu, kamu memilih jurusan itu. Ingat, kita akan berkembang di jurusan yang kita suka, jadi ikuti kata hatimu.
Lihat Kualitasmu
Setelah dua langkah di atas sudah kamu lewati, sekarang kamu periksa kualitasmu, karena keinginan saja belum cukup, harus juga disesuaikan dengan kemampuan. Nah, sekarang kamu cari jurusan yang kamu suka tsb ada di Perguruan Tinggi mana, lihat passing gradenya di tempat bimbel kamu, dan sesuaikan dengan hasil simulasi/try out kamu. (passing grade adalah gambaran tahun-tahun sebelumnya, dan tidak akan jauh berbeda dengan tahun berikutnya)
Tidak ada rotan akar pun jadi.
Bila kemampuan kamu sudah mencukupi alias berada di atas passing grade, kamu sudah aman dengan memilih jurusan itu. Tapi bila kamu berada di zona tidak aman alias tidak mencukupi passing gradenya, kamu cari lagi di Perguruan Tinggi lainnya. Contohnya :
misal Saya suka kedokteran di “Universitas Sitepu” yang passing gradenya 55%, tapi kemampuan saya pas try out cuma 50%, maka saya cari jurusan kedokteran yang ada di universitas lain, misalnya di “uNIversitas Suprie” yang passing gradenya 45%. Maka saya sudah klop dengan pilihan saya,
pilihan 1. Kedokteran “universitas sitepu”.
pilihan 2. Kedokteran “universitas suprie”.
dan akhirnya, jika saya tidak kuliah di “Universitas Sitepu” maka di “universitas suprie” juga tidak masalah, yang penting jurusannya saya suka.
Jangan Cari Aman
“Wah, Kalau nanti saya tidak kuliah, saya ngapain ya? Mending saya pilih jurusan yang asal-asal aja deh, yang penting saya bisa kuliah, ngga nganggur”–jangan pernah ada kalimat seperti itu dalam benakmu, karena kalimat itu yang akan menghancurkan hatimu.– Seandainya nanti kamu lulus di pilihan yang asal-asal aja, percuma kamu tidak akan menikmatinya, kamu tidak akan maksimal didalamnya, dan mungkin kamu akan menyesal.
Oleh Muhammad Avisena
Dari berbagai sumber