Oleh Muhammad Avisena
Dosen yang baru berusia 28 tahun ini mengaku bahwa dia cinta kebudayaan
Sunda, salah satunya adalah seni ketangkasan domba Garut. Menurutnya domba seperti manusia, ada yang cekep ada juga yang jelek. Baginya memilih domba yang bagus sangat mudah, hanya seperti melihat perempuan cantik. Semudah itu.
Sepasang domba jantan dengan gagah memasuki arena pertandingan. Setelah
keduanya bersiap, mundur beberapa langkah, lari, kemudian, bletaak. Suara
keras terdengar ketika kepala kedua domba terebut beradu dengan kencangnya. Beberapa detik dari hantaman tersebut, kedua domba sempat terdiam. Namun beberapa saat kemudian keduanya kembali melangkah mundur. Mundur untuk maju, untuk menjatuhkan lawannya. Untuk menjadi jawara saat itu.
Kontes ketangkasan domba Garut yang diadakan di Babakan Siliwangi, Minggu (4/4) itu berlangsung meriah, dengan iringan lagu Sunda dan instrumennya. Ratusan orang menyaksikannya, sangat ramai, berteriak-teriak menjagokan salah satu domba yang menurutnya akan memenangkan pertandingan tersebut. Mereka rata-rata memakai Pakaian serba hitam. Khas sekali. Termasuk An An Nurmeidiansyah, yang juga memakai pakaian tersebut.
An An adalah pria yang masih muda. Umurnya baru 28 tahun. Sangat kontras
dibandingkan senior-seniornya di Himpunan Peternak Domba dan Kambing
Indonesia (HPDKI). Namun kecintaannya terhadap seni ketangkasan domba tidak perlu diragukan lagi. Dia sudah memiliki domba laga sejak SMA. Kini
dia menjabat sebagai Sekretaris Umum DPC Kota Bandung.
An An yang bekerja sebagai dosen di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran ini mengaku menyukai seni ketangkasan domba Garut ini karena
dia merasa sebagai orang Sunda dia harus melestarikan kebudayaan di tempat dia dilahirkan.
“Karena saya orang Sunda, jadi mau nggak mau harus melestarikan budaya.
Benjang saya suka, wayang golek saya suka. Karena saya orang Sunda,”
tuturnya.
An An menganggap bahwa budaya Sunda seperti ketangkasan domba memang harus dipertahankan dan dilestarikan. Dari kegiatan seperti ini dia
menggambarkan bahwa banyak orang yang mendapatkan rezeki, mulai dari
tukang dagang, tukang jualan baju, musik, tenda, bahkan penjual kambing
pun mendapatkan bagiannya masing-masing. Begitu banyak perputaran uang
yang terjadi pada hari itu.
An An lahir dari keluarga yang mencintai budaya Sunda. Dia bercerita bahwa
kakeknya adalah tukang domba. Namun dombanya bukan domba laga, tapi domba potong. Untuk kegiatan seni seperti ini An An tidak suka kalau disebut adu domba, dia menyebutnya sebagai seni ketangkasan domba.
“Kalau saya tidak suka dibilang adu domba, karena ini lebih ke seni. jadi
di sini juga disebutnya liga ketangkasan domba garut. Kenapa disebut seni,
karena di sini ada lima kriteria. Kalau dulu mungkin memang adu domba
karena dulu diadu sampai mati, sampai kabur, sampai berdarah, sampai
pincang, pokoknya sampai nggak bisa bangun dombanya, sampai sakit. Kalau
sekarang kan dibatasi pukulannya sampai 20,” jelasnya.
Dia mengatakan bahwa kemungkinan kematian domba pada laga ini sangat
kecil, hanya di bawah satu persen. Itu pun pasti karena kecelakaan. Dia
pun menambahkan bahwa kini perjudian pun sulit dilakukan. Penilaian menang atau tidaknya hanya diketahui oleh juri.
Domba garut memang mempunyai naluri untuk menjatuhkan domba lainnya. An An mengatakan bahwa domba Garut ketika dilepas di lapang, kemungkinan hal yang dikerjakannya cuma tiga, menaikki domba lainnya, makan rumput, dan beradu.
“Kalau di kandang nggak diaduin juga tetep aja ngebentur-bentur kandang,”
ujarnya.
Melatihnya menurut An An hampir sama dengan perawatan domba biasa, hanya saja ditambah dengan latihan fisik seperti berenang, latihan lari,
diceblok di sawah. Latihan ini bertujuan untuk memperkuat otot lengan dan kaki. Domba Garut yang siap berlaga pada umumnya berusia sampai tujuh
tahun.
“Domba juga ada lifetimenya. Kalau sudah lebih dari tujuh tahun dia sudah
masa akhir. Paling jadi pejantan. Biasanya tujuh tahunan. Kalau kita
ngerawatnya bagus, tandingnya nggak tiap minggu, misal dua bulan atau tiga
atau satu bulan sekali, nggak tiap minggu, itu dombanya bisa awet” kata An
An.
Domba yang sudah jawara beberapa kali akan memiliki daya jual yang bagus.
Harga domba jawara berkisar pada harga 20-30 juta. Domba jawara diakui An An akan menghasilkan keturunan yang bagus pula. Sama seperti pepatah, buah tidak jauh dari pohonnya. Namun dalam memilih domba yang bagus, terutama yang belum pernah tanding memang gampang-gampang susah. Perlu waktu untuk mahir dalam memilih domba.
“Wah susah, bisa sampai besok pagi atau sampai minggu depan saya jelasin.
Banyak sisi yang harus dilihat. Tapi kalau biasa lihat domba sama kayak
lihat cewek. Cewek ini cakep, ya udah,” katanya sambil tertawa.

Discussion
No comments yet.