Selamat Tahun Baru!

Yeay, akhirnya saya menulis lagi ūüėÄ

Sejak saya memutuskan keluar dari pekerjaan saya sebagai wartawan di Bisnis Indonesia, ini tulisan saya yang pertama. Setidaknya dalam enam bulan terakhir dan bukan status di media sosial.

Sejak saya menulis di blog ini, ini tulisan pertama saya sejak dua tahun lalu. Terakhir, momennya sama, tahun baru juga. Ini bukan tulisan kedua, karena sebetulnya ada beberapa tulisan-tulisan sebelumnya yang sengaja saya hapus karena konten yang kurang pas dengan minat saya dalam beberapa tahun terakhir.

Biasanya, awal tahun selalu identik dengan resolusi. Sama halnya dengan dua tahun lalu ketika saya menuliskan resolusi saya pada 2015 lalu. Lalu apa hasilnya, 2015? Saya berhasil resign. Berhasil lepas dari zona nyaman diri sendiri. Ya, tapi itu baru bisa saya lakukan pertengahan tahun 2016. Cukup berat memang.

Setidaknya satu langkah itu berhasil saya lalui. Tetapi, pada setiap perjalanan, selalu ada langkah berikutnya jika ingin benar-benar mencapai tujuan. Selalu saja ada rintangan, walaupun saat ini menurut saya mayoritas rintangan itu hanyalah ilusi di kepala kita.

So, apa target saya pada 2017?

Tentu saja saya harus bisa survive, hahaha.. Saya keluar dari pekerjaan saya dengan kondisi bisnis yang masih butuh perhatian ekstra. Butuh usaha ekstra, mengingat ini bisnis patungan di mana hasilnya harus dibagi berdua. Padahal hasilnya toh belum seberapa.

Jalan keluarnya, sejak saya tak lagi jadi karyawan, saya bikin usaha baru yang murni modal sendiri. Modalnya cuma pengetahuan di industri yang sama dengan bisnis sebelumnya. Hasilnya cukup memuaskan. Tetapi masih butuh pengembangan lebih lanjut.

Resolusi saya memang tidak terlalu muluk. Bikin usaha sebelumnya sedikit demi sedikit semakin besar. Setidaknya, saya bisa mendapatkan hasil yang sama dengan yang saya hasilkan saat jadi karyawan.

 

 

 

Selamat Tahun Baru!

Satu Langkah Pertama

Huffh, tidak berasa sudah 2015 saja. Rasanya cepat sekali, padahal sepertinya baru kemarin hari pertama saya bekerja. Rasanya, resolusi tahun kemarin baru saja terucap, “2015 saya akan berhenti bekerja, lalu menjadi pengusaha.”

Dua tahun lalu, resolusi itu tampak sangat masuk akal. Kebutuhan modal yang jadi hambatan utama hampir semua pengusaha wannabe, tampaknya bisa dipenuhi cukup dengan dua tahun bekerja. Tapi ternyata, seperti kebanyakan resolusi lainnya, tidak semudah itu. Ternyata hambatan utama bukan soal modal!

Ketika masuk menjadi seorang pekerja, apa pun itu perusahaannya, ada suatu kenyamanan di dalamnya. Fix income. Naik-turunnya kinerja tidak begitu berdampak signifikan terhadap uang yang kita kantongi setiap bulan. Di kantor saya sebelumnya, bahkan dua hal tersebut tidak berhubungan sama sekali rasanya.

Nyaman sekali memang. Apalagi ketika sebuah pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas kadang bisa dilakukan hanya dengan menutup mata. Sedikit pengorbanan, tapi ada kepastian.

Kenyamanan itu seolah menemukan jalan buntu ketika kantor saya ditutup pada Oktober 2014. Ada secercah harapan, bahwa resolusi setinggi langit itu bisa benar-benar tercapai sebelum 2015. Bahkan tanpa menguras tabungan, karena pesangon yang saya dapatkan sudah memenuhi target untuk memulai bisnis.

Sayangnya, memang tidak semudah itu. Pendapatan tetap seolah menjadi candu, ada kekhawatiran, jika bisnis tidak semulus harapan. Ada ketakutan, apa yang akan didapatkan tidak bisa sebesar sebelumnya, dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya.

Keputusan pun dibuat, meski tampak agak mustahil. Kenapa tidak dua-duanya saya jalankan? Sama seperti strategi pengusaha wannabe lainnya. Alih-alih mulai usaha, saya masih bekerja, sehingga masih ada pula pendapatan rutin masuk tiap bulan. Hingga tulisan ini saya posting, sample produk saya masih dibuat di Bandung. Sementara saya masih bekerja 5/7 seperti biasanya.

Seorang kawan pernah bilang, jangan buang sandalmu sebelum dapat yang baru. Satu lagi, sebelum investasi uangmu, tidak ada salahnya investasi waktumu. Meski kurang sependapat dengan yang pertama, saya lebih cocok dengan saran kedua. Setidaknya pelajari dulu apa yang ingin kamu masukki, biar tidak salah ketika melangkah.

Resolusi tahun lalu memang tidak sepenuhnya tercapai, saya masih bekerja. Tapi saya juga sudah menapakkanlangkah pertama untuk memulai apa yang sangat saya inginkan saat membuat resolusi itu. Sukses buat kita semua!

Satu Langkah Pertama