Satu Langkah Pertama

Huffh, tidak berasa sudah 2015 saja. Rasanya cepat sekali, padahal sepertinya baru kemarin hari pertama saya bekerja. Rasanya, resolusi tahun kemarin baru saja terucap, “2015 saya akan berhenti bekerja, lalu menjadi pengusaha.”

Dua tahun lalu, resolusi itu tampak sangat masuk akal. Kebutuhan modal yang jadi hambatan utama hampir semua pengusaha wannabe, tampaknya bisa dipenuhi cukup dengan dua tahun bekerja. Tapi ternyata, seperti kebanyakan resolusi lainnya, tidak semudah itu. Ternyata hambatan utama bukan soal modal!

Ketika masuk menjadi seorang pekerja, apa pun itu perusahaannya, ada suatu kenyamanan di dalamnya. Fix income. Naik-turunnya kinerja tidak begitu berdampak signifikan terhadap uang yang kita kantongi setiap bulan. Di kantor saya sebelumnya, bahkan dua hal tersebut tidak berhubungan sama sekali rasanya.

Nyaman sekali memang. Apalagi ketika sebuah pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas kadang bisa dilakukan hanya dengan menutup mata. Sedikit pengorbanan, tapi ada kepastian.

Kenyamanan itu seolah menemukan jalan buntu ketika kantor saya ditutup pada Oktober 2014. Ada secercah harapan, bahwa resolusi setinggi langit itu bisa benar-benar tercapai sebelum 2015. Bahkan tanpa menguras tabungan, karena pesangon yang saya dapatkan sudah memenuhi target untuk memulai bisnis.

Sayangnya, memang tidak semudah itu. Pendapatan tetap seolah menjadi candu, ada kekhawatiran, jika bisnis tidak semulus harapan. Ada ketakutan, apa yang akan didapatkan tidak bisa sebesar sebelumnya, dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya.

Keputusan pun dibuat, meski tampak agak mustahil. Kenapa tidak dua-duanya saya jalankan? Sama seperti strategi pengusaha wannabe lainnya. Alih-alih mulai usaha, saya masih bekerja, sehingga masih ada pula pendapatan rutin masuk tiap bulan. Hingga tulisan ini saya posting, sample produk saya masih dibuat di Bandung. Sementara saya masih bekerja 5/7 seperti biasanya.

Seorang kawan pernah bilang, jangan buang sandalmu sebelum dapat yang baru. Satu lagi, sebelum investasi uangmu, tidak ada salahnya investasi waktumu. Meski kurang sependapat dengan yang pertama, saya lebih cocok dengan saran kedua. Setidaknya pelajari dulu apa yang ingin kamu masukki, biar tidak salah ketika melangkah.

Resolusi tahun lalu memang tidak sepenuhnya tercapai, saya masih bekerja. Tapi saya juga sudah menapakkanlangkah pertama untuk memulai apa yang sangat saya inginkan saat membuat resolusi itu. Sukses buat kita semua!

Satu Langkah Pertama