//
you're reading...
Uncategorized

Potensi Tinggi dari Mucuna, si Tumbuhan yang Terabaikan

390mucuna_pruriens

Selama bertahun-tahun Mucuna dikenal sebagai tumbuhan beracun yang berbahaya untuk manusia dan ternak. Di beberapa tempat di Indonesia tumbuhan ini bahkan sudah dimusnahkan. Namun, ternyata tumbuhan terabaikan ini mempunyai potensi yang sangat tinggi.

Berdaun lebar dan merambat, panjang batang bisa mencapai hampir mencapai ukuran lengan orang dewasa. Bijinya serupa dengan biji kacang-kacangan lainnya, hanya saja dia berukuran lebih besar, warnanya pun berwarna-warni tergantung jenisnya. Ada hitam, merah, merah muda, dan yang lain. Itulah Mucuna. Masyarakat selama ini mengenalnya dengan kacang benguk, kara benguk, atau koro benguk yang beracun bagi manusia dan ternak. Penenamannya tidak serius, tidak terbudidaya.

Pagi benar Ade Ismail sudah ada di kantornya. Di pagi itu dia sibuk mengutak-atik komputer yang ada di meja kerjanya. Melihat hasil kerjanya mengenai penelitian keanekaragaman Mucuna Indonesia yang menjadi bahan kelulusannya untuk gelar magister. Dia tertarik pada Mucuna karena Indonesia memiliki keanekaragaman tanaman yang sangat besar, termasuk yang sudah terabaikan.

Mucuna atau yang lebih dikenal sebagai kara benguk merupakan sumber potensi genetik tanaman yang dimiliki Indonesia. Kandungan protein yang tinggi pada biji Mucuna di Indonesia ternyata dapat dijadikan sebagai sumber nutrisi alternatif. Tidak hanya nutrisinya, racunnya pun memiliki nilai ekonomis tinggi, yakni sebagai bahan obat herbal.

Mucuna atau kara benguk, sebenarnya masyarakat sudah tahu, bahkan sudah dibikin tempe benguk. Tapi ternyata oleh masyarakat, mucuna ini tidak diperhatikan. Kalau di pematang sawah itu hanya ditanam seadanya saja, tidak dibudidayakan. Bahkan kasus di Nusa Tenggara Timur tanaman Mucuna ini sudah ditebang, sudah dimusnahkan. Itu karena memang di Mucuna mengandung senyawa toksik pada bijinya,” kata Ade pagi itu.

Indonesia memiliki keanekaragaman tumbuhan terbesar kedua di dunia. Oleh sebab itu banyak potensi di dalamnya, terutama tanaman yang belum tersentuh dan dikesampingkan atau biasa disebut sebagai under utilize crop. Mucuna merupakan salah satu di antaranya. “Yang sudah dikesampingkan oleh kita, ternyata memiliki potensi yang sangat bagus,” ungkap Ade.

Tanaman beracun ini ternyata bisa diolah sebagai bahan pangan dan pakan. Untuk mereduksi racun yang terkandung di dalamnya digunakan beberapa cara yang cukup sederhana. Biji kacang benguk mengandung senyawa alkaloid toksik. Senyawa-senyawa toksik ini dapat menimbulkan keracunan. Namun dengan pengolahan yang baik, perendaman dan perebusan yang disertai pengelupasan kulit, senyawa toksik akan larut dalam air dan terurai.

“Kalau masyarakat di NTT dan Papua mereka biasa mengkonsumsi polong yang muda. Jadi biasanya, kandungan racun yang tinggi itu di biji yang sudah tua, tapi di daun, di batang itu juga ada. Tapi lebih kecil, jadi bisa dilalap atau disayur,” ujar Ade yang juga dosen di jurusan Budidaya Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.

Hanya saja kalau keracunan, efek yang standar adalah pusing dan mual, namun selama ini belum pernah ada yang keracunan. Karena masyarakat sudah tahu itu beracun. Bahkan di NTT sudah membakar ladang Mucuna karena ketakutan mereka. Pemusnahan seperti ini juga pernah terjadi di Amerika Selatan.

“Kami sudah mengembangkan sebagai tempe benguk, kemudian tahu benguk,” tutur pria 32 tahun ini. Fermentasi merupakan cara paling tepat untuk menghilangkan senyawa racun yang terkandung di dalam Mucuna.

Kandungan nutrisi Mucuna sebagai sumber alternatif pangan tidak jauh berbeda dengan kacang-kacangan lainnya. Berdasarkan hasil analisis nutrisi pada 17 varietas Mucuna yang tersebar di seluruh Indonesia, Mucuna memiliki kandungan protein berkisar antara 20,99 persen hingga 36,98 persen.

Varietas Mucuna yang berasal dari Nusa tenggara Timur dan Jawa Tengah memiliki kandungan protein tertinggi di banding dengan di daerah lain, yakni 36,98 dan 36,22 persen. Sedangkan Mucuna asal Jawa Barat dan Sumatra memiliki kandungan karbohidrat di atas rata-rata, yakni 60 persen.

“Dengan kacang-kacangan lain nutrisinya kompetitif, bergantung pada jenis tanamannya. Saya melihat yang sangat berpotensi itu sampai 36 persen, kalau kedelai itu 39 persen, jadi nggak jauh beda,” papar Ade. Ia mengakui bahwa arah risetnya juga sebagai sumber pangan alternatif. Dari hal tersebut dia beranggapan bahwa ketergantungan kita pada kedelai impor akan menurun.

Permasalahan muncul dari segi bentuk yang dianggap kurang menjual. “Hanya karena Mucuna itu berwarna-warni, tempenya itu tidak sebening tempe dari kedelai. Karena biji mucuna ada yang hitam, merah ada yang semi merah, tempenya jadi belang-belang. Dari segi preverensi konsumen mungkin kurang.” ungkap Agung Karuniawan Kepala Laboraturium Pemuliaan Tanaman yang juga pembimbing Tesis Ade.

Sebelumnya Mucuna lebih dikenal sebagai legume cover crop (LCC)¸ yakni tumbuhan yang berfungsi menekan pertumbuhan gulma. Biasanya diterapkan di perkebunan kelapa sawit dan karet. Dengan menekan pertumbuhan gulma, biaya produksi untuk memberantas gulma menjadi berkurang.

“Di perkebunan kelapa sawit sumatra utara mereka sudah menggunakan Mucuna ini hanya mereka menggunakan Mucuna impor dari India, Mucuna Brachteata. Nah di kita juga punya. Makanya kita sedang menganalisis sejauh mana kemampuan Mucuna Indonesia apakah setara dengan Mucuna India itu,” ujar Ade.

Agung pun senada dengan Ade mengenai kemungkinan adanya Mucuna Indonesa yang mempunyai kemampuan sama dengan Mucuna India dalam hal menekan pertumbuhan gulma. “Mucuna yang dikenal sebagai kara benguk tidak menimbulkan alergi pada bulunya. Tetapi Mucuna liar, yang saya curiga dan saya harapkan menyamai Brachteata asal india itu sangat alergetik. Jadi kalau bulunya terkena kulit bisa gatal-gatal,” terangnya.

Dosen yang menyelesaikan studi doktoralnya di Jerman ini yakin jika sudah ditemukannya spesies Mucuna asal indonesia yang kemampuannya menyamai atau mendekati Mucuna Brachteata asal India sebagai legume cover crop, pihak perkebunan Indonesia tidak perlu lagi mengimpor milyaran uang per tahun. “Saya punya data sekitar lima milyar per tahun mereka impor,” tambah Agung.

Selain sebagai sumber nutrisi dan LCC, kandungan senyawa toksik pada Mucuna pun bisa dimanfaatkan, yakni sebagai obat herbal. Produk obat herbal dari Mucuna yang telah dikomersilkan secara luas dengan manfaat meliputi pengobatan penyakit gangguan syaraf, anti bisa ular, meningkatkan bobot dan kekuatan otot, vitalitas seksual pria, serta sebagai zat anti-aging dan obat cacing pada manusia.

“Racun ini sebenarnya bernilai ekonomis tinggi, salah satu nama racunnya adalah L-Dopa, nah L-Dopa ini dapat dijadikan sebagai zat aktif obat. Salah satunya adalah parkinson. Kalau di India digunakan sebagai anti bisa ular, untuk kekuatan tubuh, otot, dan salah satu yang paling penting itu untuk viagra, untuk vitalitas pria. Nah itu biasanya. Kalau di dunia ini sudah jauh melambung risetnya,” papar Ade Ismail.

L-Dopa dianggap memiliki nilai ekonomis tinggi. Untuk produk olahannya harga berkisar di angka 40 US$ per 100 kapsul. Sayangnya untuk menganalisis L-Dopa memerlukan biaya yang tinggi. “Untuk riset L-Dopa kan mahal sekali. Dan di Indonesia masih belum bisa dilakukan, jadi terkait dana, ungkap Ade.

“Kemarin kami belum analisis L-Dopanya karena terkait dana. Kami belum melakukannya, jadi kami hanya analisis anti nutrisinya saja, efek racunnya. Karena racunnya memiliki korelasi dengan kandungan L DOpa itu. Kemarin sudah dianalisis dan memang bervariasi racunnya, tambahnya”

Walaupun memiliki banyak potensi, Ade tidak yakin Mucuna akan dapat berkembang jika tidak ada dukungan dari pemerintah. “Kalau pemerintah tetap menggembor-gemborkan kacang-kacangan yang selain Mucuna, ya Mucuna juga tidak bisa berkembang kan? Artinya kebijakan pemerintah pun harus menuju ke sana, diarahkan ke diservikasi pangan,” tegasnya.

Untuk tahun-tahun sebelumnya dia menilai peran pemerintah masih kurang. Tapi tahun ini sudah mulai membaik karena ada arah ke diversivikasi pangan. “Kalau kita sudah ke diversivikasi pangan mah nggak ada kelaparan, nggak ada harus impor. Nggak di kacang-kacangan saja, nggak di umbi-umbian saja. Dulu mungkin di Papua sumber umbi-umbian banyak ya. Nah pemerintah ini yang tidak bijaksana akhirnya ditanam saja padi di seluruh Indonesia. Ini kan merubah budaya pola konsumsi Papua. Mestinya ya sudah biarin. Papua makan sagu ya sudah biarin makan sagu, didukung oleh pemerintah. Di madura jagung, ya sudah jagung. Makanya sekarang krisis beras, beras harus impor. Kenapa pemerintah mengangkatnya yang berpotensi saja?” paparnya.

Discussion

8 thoughts on “Potensi Tinggi dari Mucuna, si Tumbuhan yang Terabaikan

  1. it is great to read your blog and to remind out interview view weeks ago!

    Posted by agung karuniawan | January 12, 2009, 1:45 pm
    • it is great to read your blog and to remind out interview view weeks ago!

      Terimakasih Pak Agung, Saya masih berencana edit tulisan ini lagi buat diserahin ke Bapak sesuai janji saya waktu interview beberapa minggu lalu.

      Posted by avisena | January 22, 2009, 7:17 am
  2. potensi yang luar biasa dari mucuna dan sangat disayangkan bila tidak dioptimalkan pembudidayaannya.., saya saat ini pun sedang melakukan penelitian terhadap mucuna pruriens dan saya fokus pada aksesi Nusa Tenggara..,
    Ada yang ingin saya tanyakan, mohon berkenan untuk dijawab.., apakah ada korelasi antara warna pada biji kara benguk terhadap kadar nutrisi, anti nutrisi serta toksisitasnya? Jika ada, lalu bagaimana korelasinya?
    Mohon penjelasannya dan mohon pula disertai dengan sumber penjelasan tersebut..
    Terima kasih atas bantuannya..

    Posted by dwiryani | February 13, 2009, 5:31 am
    • rekan-2 pemerhati genus Mucuna yang budiman, genus mucuna pada dasarnya terdiri dari beberapa spesies baik yang liar maupun yang sudah dibudidayakan. Secies liarnya meliputi M.pruriens var. pruriens (bulu menyebabkan iritasi kulit dan mata), yang budidaya meliputi M. pruriens var utilts (koro benguk, dnegan beragam warna seed coat dan ukuran biji), serta M. brahteata (untuk LCC di perkebunan sawit dan karet). Daun tua dan biji tua mengandung racun lambung dan racun syaraf sehingga tidak bisa digunakan sebagai pakan ternak. Namun biji koro benguk bisa dijadikan bahan makanan setelah melalui tahapan pengolahan terlebih dahulu.

      lab kami di UNPAD bandung memiliki koleksi puluhan aksesi genus Mucuna asal seluruh wilayah Indonesia dan beberapa sampel dari afrika. Koleksi tersebut kami konservasi dalam cool storage sehingga bila ada rekan-rekan yang tertarik, maka kami bisa memfasilitasinya menyediakan benih setiap aksesi dengan kemurnian genetik 100% namun harus memesannya satu tahun awal karena kami harus emmperbanyak bijinya, kecuali M.brahteata yang tidak bisa diperbanyak melalui biji dan harus melalui stek. M. brahteata dijual secara komersial oleh importer dnegan harga USD 100/kg, mungkin saat ini bisa berfluktuasi.

      kami sudah melakukan studi awal berupa percobaan pembuatan tahu dan tempe berbahan koro benguk, serta ekstraksi L-DOPA untuk bahan obat syaraf, namun masih dalam skala lab dan belum skala industri.

      demikian semoga bermanfaat. (Agung Karuniawan, Dr. lab Pemuliaan tanaman UNPAD Bandung)

      Posted by agung | August 16, 2012, 9:49 am
  3. untuk sdr/i dwiryani, silakan kirim email ke saya akaruni@yahoo.com agar diskusi kita terkait pertanyaan korelasi warna terhadap kadar nutrisi dan antinutrisi mucuna lebih sistemtis. (Dr. Agung Karuniawan)

    Posted by agung karuniawan | May 4, 2009, 8:21 am
  4. Trims artikelnya.
    Kalau penggunaan untuk hijauan pakan ternak bagaimana? saya kebetulan dapat bijinya dan sedang coba semai nih..

    Posted by manglayang | January 30, 2010, 5:33 pm
  5. untuk beli bibit Mucuna Brachteata dimana ya mas ? bisa nggak memberikan informasi , karena saya membutuhkan bibit dalam jumlah besar untuk budidaya. makasih. hub. hp saya : 081335711762

    Posted by taufan | February 21, 2011, 4:13 am
  6. post its very good,,
    terimakasih atas infonya

    Posted by furniture-jati | February 13, 2012, 10:27 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: